Sabtu, 4 April 2009
Aku sudah lama pengen beli yoyo. Tapi papa sama mama lupa terus belinya. Sabtu ini, seperti biasa papa sama mama ke kota. Akhirnya ingat juga beli yoyo. Harganya 11 ribu, tapi mama - seperti biasa - yang jago nawar bisa nawar jadi tinggal 8 ribu.
Di rumah aku malah nangis waktu tau dibelikan yoyo yang seperti itu. Ah yoyo macem itu mah di sekolah juga banyak. Trus aku tanya harganya. Waktu tau harganya, aku malah tambah nangis. Cuma 8 ribu? Aku pengen yang 200 ribu! HAH? Papa sama mama jadi terbengong-bengong.
Papa tanya apa bedanya yoyo yang 8 ribu sama yang 200 ribu. Aku gak bisa jelas jawab, soalnya aku nggak tau bener bedanya. Katanya kalau yang mahal tuh otomatis. Kalau yoyonya lagi di bawah bisa naik sendiri. Papa bilang, wah kalau itu sih semua yoyo juga otomatis.
Akhirnya papa tanya, emang aku sudah bisa main yoyo? Aku gak jawab. Aku masih nangis. Papa sih yakin aku emang belum bisa main yoyo. Akhirnya papa bilang, kalau aku bisa membuktikan bisa main yoyo, dan bisa ikut lomba dan juara yoyo, pasti papa akan membelikan yoyo yang
harganya sampai 200 ribu itu.
Lama-kelamaan tangisku reda, dan akhirnya mau coba yoyo itu sambil ketawa-ketawa. Soalnya lucu juga ya main yoyo. Nggak semudah yang aku kira. Tapi papa tetep ngajarin. Untuk mainin yang standar aja aku sulit banget. Aku masih aja nggak bisa bikin yoyo muter di bawah atau di lempar ke depan.
Papa nanya tukang yoyo masih ada nggak di sekolah? Ada nggak yang jual yoyo kayu seperti waktu papa masih SD? Aku jawab ada dan harganya 2500 perak. Akhirnya papa nitip beli. Taunya papa jago juga lho main yoyo meski nggak sehebat permainan yoyo yang aku lihat di tivi.
Akhirnya setelah beberapa hari aku jadi bosen juga sama yoyo. Untung papa nggak beliin yang 200 ribu ya.....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar