Aku dah lama pengen punya handphone sendiri.
Papa pernah sih ngasih HP punya papa. Merknya LG.
Tapi aku gak mau make. Habis baterenya cepet drop.
Made yang kebetulan HPnya LG juga, pernah ganti batere juga, tapi cepet drop juga. Jadi karena itu papa nggak mau beli batere baru untuk LG, maka batere originalnya harganya 150rb. Juga, nggak ada batere palsunya kayak Nokia yang ada di mana-mana.
Tabunganku sendiri kemarin ada125 ribu. Papa bilang supaya aku realistis. Boleh aja sih pengen punya HP yang ada MP3, bluetooth, Infra Red, kamera, dan sebagainya, tapi itu nggak realistis. Aku tanya kenapa nggak relistis? Soalnya ngumpulin uang sebanyak itu untuk anak SD sebesar aku juga akan sampai kapan terkumpul? Juga kalau terkumpul segitu papa sama mama pasti juga nggak mengizinkan aku untuk membeli HP semewah itu. Kebayang kan kalau hilang, siapa juga yang nangis. Pasti aku dan mama yang paling nangis. Papa sih bilang kalau hilang, papa sih akan dengan rela, karena papa punya prinsip semua benda itu ada umurnya. Jadi kalau HP hilang, mungkin umur HP itu di tangan kita memang pendek. Belum lagi di kelasku ada orang iseng - yang sampai sekarang aku nggak tau siapa - suka mencuri, dan kayaknya sentimen sama aku sampai barang kepunyaanku sering diisengin. Kebayang kan kalau punya HP terus diilangin sama seseorang?
Papa juga memahamkan bahwa fungsi utama HP adalah untuk berkomunikasi. Telepon dan SMS. Juga, kalau aku punya HP bukan berarti aku bisa bebas bertelepon dengan teman-temanku, karena telpon juga memakai pulsa. kalau aku punya HP, pasti juga akan dijatah pulsanya. Mungkin 10rb per minggu kata papa.
Juga, kalau aku punya HP, fungsi utamanya adalah agar papa dan mama bisa menghubungi aku kalau ada apa-apa. Jadi papa memahamkan aku tentang fungsi HP , bukan untuk gaya-gayaan.
Ayah juga bilang nggak tau diri sama teman aku yang punya HP dua. Kecuali orang dewasa, dan punya bisnis. HP lebih dari satu gunanya untuk menghubungi rekan bisnis, dan HP lainnya untuk menghubungi keluarga.
Jadi aku mengerti, kalau aku pengen blackberry, kayaknya keterlaluan deh. Kalaupun ada, pasti yang pake ayah dulu. Ayah bilang, ayah males beli blackberry, soalnya, kalau beli pasti aku pinjam melulu untuk main game atau fesbukan. Dengan tenangnya aku bilang sama papa, makanya belinya satu-satu biar nggak pinjem-pinjeman. Aku dan ayah ketawa ngakak...... :D
Senin, Juni 08, 2009
DUNIAMU"," DUNIA MEREKA "-" SEMUA MASIH SATU DUNIA
Dunia itu luas
Tak sesempit duniamu
Kadang kau harus melihat
dari luar kacamatamu
Meski kadang terasa
Duniamu telah begitu luas
Dunia masih lebih luas
daripada duniamu
Begitu banyak buku yang kau baca
Masih banyak pelajaran yang harus dalami
Buku dunia, pelajaran kehidupan
Bukalah sepatumu
Gantilah dengan sandal yang hampir kau buang
Bukalah bajumu
Kenakan kaos yang hampir kau jadikan lap
Pergilah ke pemukiman
Tempat orang tidur dalam bedeng
Rasakan nyenyak tidur mereka
Bersama gigitan serangga
Pergilah ke warteg
Belilah seporsi makan siang
Makanlah bersama
Tukang becak, sopir, dan kuli bangunan
Rasakan kerasnya nasi
lembeknya sayur
Minum rebusan air PAM
Panasnya hawa
dan aroma badan pengunjung yang ada
Pergilah ke pinggir kali
Tempat orang membuang hajat
Tempat ibu mencuci baju
Tempat orang membuang sampah
Tempat penjaja makanan entah apa
Datanglah saat terik
Datanglah saat petang
Rasakan kehidupan yang sesungguhnya
Dengan demikian kau dapat berkata
Dunia ini tidak hanya seperti duniamu
Tak sesempit duniamu
Kadang kau harus melihat
dari luar kacamatamu
Meski kadang terasa
Duniamu telah begitu luas
Dunia masih lebih luas
daripada duniamu
Begitu banyak buku yang kau baca
Masih banyak pelajaran yang harus dalami
Buku dunia, pelajaran kehidupan
Bukalah sepatumu
Gantilah dengan sandal yang hampir kau buang
Bukalah bajumu
Kenakan kaos yang hampir kau jadikan lap
Pergilah ke pemukiman
Tempat orang tidur dalam bedeng
Rasakan nyenyak tidur mereka
Bersama gigitan serangga
Pergilah ke warteg
Belilah seporsi makan siang
Makanlah bersama
Tukang becak, sopir, dan kuli bangunan
Rasakan kerasnya nasi
lembeknya sayur
Minum rebusan air PAM
Panasnya hawa
dan aroma badan pengunjung yang ada
Pergilah ke pinggir kali
Tempat orang membuang hajat
Tempat ibu mencuci baju
Tempat orang membuang sampah
Tempat penjaja makanan entah apa
Datanglah saat terik
Datanglah saat petang
Rasakan kehidupan yang sesungguhnya
Dengan demikian kau dapat berkata
Dunia ini tidak hanya seperti duniamu
Minggu, Juni 07, 2009
GURU, Pahlawan Tanpa Tanda Jasa
Guruku;
Berkat jasamu ku bisa membaca dan menulis
Kau berikan ilmu dan pengalaman pada kami
Tanpa lelah kau mendidik dan mengajar kami
Engkau membimbingku tuk meraih cita-cita
Cita-cita yang t’lah lama ingin ku gapai
Sepenuh harapan, setinggi bintang di langit
Tanpa mengenal imbalan jasa
Engkau teladan bagi kami di sini
Engkau mengajar kami dengan tulus dan ikhlas
Kau bagai mentari yang menyinari pagi
Kau bagai rembulan penerang malam gulita
Tanpamu kami tak tahu apa itu pelajaran
Walau hari-hari t’lah terlewati
Bulan pun t’ah berganti
Di sekolah ini, kau bimbing kami tanpa keluh kesahmu
Kau pahlawan sejati bagi kami
Jasamu tiada terhingga
Dirimu tak kan kami lupakan
Terima kasih, Guruku
Berkat jasamu ku bisa membaca dan menulis
Kau berikan ilmu dan pengalaman pada kami
Tanpa lelah kau mendidik dan mengajar kami
Engkau membimbingku tuk meraih cita-cita
Cita-cita yang t’lah lama ingin ku gapai
Sepenuh harapan, setinggi bintang di langit
Tanpa mengenal imbalan jasa
Engkau teladan bagi kami di sini
Engkau mengajar kami dengan tulus dan ikhlas
Kau bagai mentari yang menyinari pagi
Kau bagai rembulan penerang malam gulita
Tanpamu kami tak tahu apa itu pelajaran
Walau hari-hari t’lah terlewati
Bulan pun t’ah berganti
Di sekolah ini, kau bimbing kami tanpa keluh kesahmu
Kau pahlawan sejati bagi kami
Jasamu tiada terhingga
Dirimu tak kan kami lupakan
Terima kasih, Guruku
Kamis, April 23, 2009
Sabtu, 4 April 2009
Aku sudah lama pengen beli yoyo. Tapi papa sama mama lupa terus belinya. Sabtu ini, seperti biasa papa sama mama ke kota. Akhirnya ingat juga beli yoyo. Harganya 11 ribu, tapi mama - seperti biasa - yang jago nawar bisa nawar jadi tinggal 8 ribu.
Di rumah aku malah nangis waktu tau dibelikan yoyo yang seperti itu. Ah yoyo macem itu mah di sekolah juga banyak. Trus aku tanya harganya. Waktu tau harganya, aku malah tambah nangis. Cuma 8 ribu? Aku pengen yang 200 ribu! HAH? Papa sama mama jadi terbengong-bengong.
Papa tanya apa bedanya yoyo yang 8 ribu sama yang 200 ribu. Aku gak bisa jelas jawab, soalnya aku nggak tau bener bedanya. Katanya kalau yang mahal tuh otomatis. Kalau yoyonya lagi di bawah bisa naik sendiri. Papa bilang, wah kalau itu sih semua yoyo juga otomatis.
Akhirnya papa tanya, emang aku sudah bisa main yoyo? Aku gak jawab. Aku masih nangis. Papa sih yakin aku emang belum bisa main yoyo. Akhirnya papa bilang, kalau aku bisa membuktikan bisa main yoyo, dan bisa ikut lomba dan juara yoyo, pasti papa akan membelikan yoyo yang
harganya sampai 200 ribu itu.
Lama-kelamaan tangisku reda, dan akhirnya mau coba yoyo itu sambil ketawa-ketawa. Soalnya lucu juga ya main yoyo. Nggak semudah yang aku kira. Tapi papa tetep ngajarin. Untuk mainin yang standar aja aku sulit banget. Aku masih aja nggak bisa bikin yoyo muter di bawah atau di lempar ke depan.
Papa nanya tukang yoyo masih ada nggak di sekolah? Ada nggak yang jual yoyo kayu seperti waktu papa masih SD? Aku jawab ada dan harganya 2500 perak. Akhirnya papa nitip beli. Taunya papa jago juga lho main yoyo meski nggak sehebat permainan yoyo yang aku lihat di tivi.
Akhirnya setelah beberapa hari aku jadi bosen juga sama yoyo. Untung papa nggak beliin yang 200 ribu ya.....
Rabu, Maret 11, 2009
Hujan...
Waktu kecil, aku diajarin sama bu guru nyanyi tentang hujan.
Pertama kali nyanyi, Papa bingung, aku nyanyi apa. Soalnya yang kedengeran adalah:
Reng... Reng.. go euweng... Kam egen enader dey
Litel cildren won to blek.. Reng... Reng... go euweng...
Akhirnya setelah Papa mikir lama, ketahuan ini deh lagu sebenarnya:
Rain... Rain... Go Away ...
Come Again Another Day...
Little Children Want to Play...
Rain... Rain... Go Away ...
Pertama kali nyanyi, Papa bingung, aku nyanyi apa. Soalnya yang kedengeran adalah:
Reng... Reng.. go euweng... Kam egen enader dey
Litel cildren won to blek.. Reng... Reng... go euweng...
Akhirnya setelah Papa mikir lama, ketahuan ini deh lagu sebenarnya:
Rain... Rain... Go Away ...
Come Again Another Day...
Little Children Want to Play...
Rain... Rain... Go Away ...
Senin, Januari 12, 2009
Masuk Rumah Sakit
Seminggu Naura masuk rumah sakit, gantian aku tanggal 9 Januari masuk rumah sakit. Tadinya papa pikir aku ketularan Naura yang kena cacar api (lihat di http://naurafg.wordpress.com) karena di lipat pahaku ada luka yang agak mirip waktu awal Naura sakit. Tapi ternyata setelah diperiksa cuma eksim saja.
Dari tanggal 30 Desember 2008 demam. Naik terus turun, naik lagi. Begitu terus. Akhirnya waktu Papa lihat luka itu, papa langsung bawa aku ke RS. Sudah diobati, tapi kok panasnya nggak turun.
Jadi pas tanggal 9 Januari itu aku diperiksa ulang dan diputuskan untuk rawat inap. Tadinya aku nggak mau. Tapi Papa maksa, soalnya kalau nggak dituntaskan bisa bahaya. Lagian kita masih nggak tau kenapa panasnya nggak turun-turun.
Akhirnya aku mau, tapi dengan syarat nggak mau disuntik. Papa bilang iya aja. Tapi nyatanya aku diinfus :-( Aku juga diambil darah beberapa kali. Lihat saja foto-fotoku. Banyak bekas perban bekas suntikan.
Karena hari ini, 12 Januari katanya Laju Endap Darahku (LED) masih 119 (normalnya cuma 10!!!) - yang berarti ada infeksi di tubuhku, dokter memutuskan serangkaian tindakan untuk mencari penyebab infeksinya di mana.
Aku diUSG (ultrasonografi) untuk melihat apa ada luka di perut/hati/ginjal/paru ku. 3 jam aku harus puasa. Laper banget. Padahal puasanya melewati jam makan siang :-( Setelah dicek, ternyata nggak ada apa-apa. Berarti kabar baik dan kabar buruk. Kabar baiknya di perutku nggak ada masalah apa-apa. Kabar buruknya dokter masih harus mencari apa penyebab infeksinya.
Besok, tenggorokanku mau diambil lendirnya. Nanti malam dari jam 00:00 sampai saat pengambilan lendir, aku harus puasa. Dokter menduganya ada virus Streptococcus yang ngendon di tenggorokanku.
Katanya virus ini doyan juga menyerang katup jantung, ginjal, atau sendi. Nah, karena sendi lutut kananku sakit sekali, dokter jadi tambah yakin. Entah bener entah nggak, mudah-mudahan penyebab infeksiku cepat diketahui supaya pengobatannya bisa dengan jelas dilakukan.
Dari tanggal 30 Desember 2008 demam. Naik terus turun, naik lagi. Begitu terus. Akhirnya waktu Papa lihat luka itu, papa langsung bawa aku ke RS. Sudah diobati, tapi kok panasnya nggak turun.
Jadi pas tanggal 9 Januari itu aku diperiksa ulang dan diputuskan untuk rawat inap. Tadinya aku nggak mau. Tapi Papa maksa, soalnya kalau nggak dituntaskan bisa bahaya. Lagian kita masih nggak tau kenapa panasnya nggak turun-turun.
Akhirnya aku mau, tapi dengan syarat nggak mau disuntik. Papa bilang iya aja. Tapi nyatanya aku diinfus :-( Aku juga diambil darah beberapa kali. Lihat saja foto-fotoku. Banyak bekas perban bekas suntikan.
Karena hari ini, 12 Januari katanya Laju Endap Darahku (LED) masih 119 (normalnya cuma 10!!!) - yang berarti ada infeksi di tubuhku, dokter memutuskan serangkaian tindakan untuk mencari penyebab infeksinya di mana.
Aku diUSG (ultrasonografi) untuk melihat apa ada luka di perut/hati/ginjal/paru ku. 3 jam aku harus puasa. Laper banget. Padahal puasanya melewati jam makan siang :-( Setelah dicek, ternyata nggak ada apa-apa. Berarti kabar baik dan kabar buruk. Kabar baiknya di perutku nggak ada masalah apa-apa. Kabar buruknya dokter masih harus mencari apa penyebab infeksinya.
Besok, tenggorokanku mau diambil lendirnya. Nanti malam dari jam 00:00 sampai saat pengambilan lendir, aku harus puasa. Dokter menduganya ada virus Streptococcus yang ngendon di tenggorokanku.
Katanya virus ini doyan juga menyerang katup jantung, ginjal, atau sendi. Nah, karena sendi lutut kananku sakit sekali, dokter jadi tambah yakin. Entah bener entah nggak, mudah-mudahan penyebab infeksiku cepat diketahui supaya pengobatannya bisa dengan jelas dilakukan.
Rabu, November 12, 2008
Juara Puisi
Jum'at, 7 November 2008
Ikut lomba baca puisi (berkelompok) se Jakarta Barat. Entah dalam rangka apa. Juara 1. Dapet piala, tapi harus buat duplikatnya, karena yang asli disimpen di sekolah. Dari kepala sekolah dapet 60rb. Uang itu yang bakal dipake untuk duplikat piala.
Langganan:
Komentar (Atom)